Showing posts with label Orangtua. Show all posts
Showing posts with label Orangtua. Show all posts
23 November 2010

Selagi Masih Ada Waktu

Amsal 6:20-23 - Hai anakku, peliharalah perintah ayahmu, dan janganlah menyia-nyiakan ajaran ibumu. Tambatkanlah senantiasa semuanya itu pada hatimu, kalungkanlah pada lehermu. Jikalau engkau berjalan, engkau akan dipimpinnya, jikalau engkau berbaring, engkau akan dijaganya, jikalau engkau bangun, engkau akan disapanya. Karena perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan.

Ibu selalu menyediakan kebutuhan kami anak-anaknya, walaupun ia sudah menjanda. Kasihnya begitu besar dan tulus, tetapi saya sering mengecewakan beliau. Kadang Ibu marah dan kesal karena saya sering menolak untuk membantunya meyelesaikan pekerjaan di rumah.

Di usianya yang sudah tua, Ibu menderita darah tinggi sebagaimana kebanyakan orang tua pada umumnya. Sikap Ibu sehari-hari menunjukkan bahwa Ibu menganggap penyakitnya adalah penyakit biasa, karena beliau tidak mengeluh apapun selain kepala yang sering pusing. Menjelang hari pernikahan saya pada tanggal 3 Juni 2001, tepatnya 2 minggu sebelum acara itu tiba, Ibu mengalami pendarahan kecil di otak sebelah kanan. Dokter mengharuskan Ibu untuk opname, tetapi Ibu menolak. Saya tahu apa yang dipikirkannya, Ibu menolak karena tidak mau merepotkan kami anak-anaknya apalagi hari pernikahan saya semakin dekat, Ibu pasti memikirkan biaya rumah sakit yang begitu besar. Semua anak-anaknya berusaha membujuk agar Ibu bersedia diopname tetapi Ibu tetap menolak, Ibu bertahan sampai saya menikah. Secara fisik Ibu memang kelihatan baik-baik saja, ternyata Ibu menyembunyikan semua rasa sakitnya agar kami tidak kuatir. Yang menjadi keluhan beliau hanyalah sekitar mata kanannya yang hampir tidak bisa melihat. Dalam kondisi yang demikian pun Ibu masih membantu merawat bayi saya, ketika saya dan suami bekerja.

Sungguh diluar dugaan saya bahwa pada tanggal 2 Mei 2002, Ibu pulang kerumah Bapa. Hari itu Ibu merasa pusing ketika sedang mengikuti ibadah di persekutuan doa kemudian jatuh pingsan. Kami membawanya ke Rumah Sakit Gatot Subroto dan dokter memakaikan berbagai-bagai alat di tubuhnya, tetapi semua itu hanya bertahan sebentar. Dua hari kemudian Ibu pergi menghadap Bapa tanpa meninggalkan pesan-pesan terakhir. Dokter yang menanganinya mengatakan bahwa Ibu terserang stroke yang langsung menyerang bagian otak sehingga tidak dapat tertolong lagi. Setelah ditinggal Ibu, saya baru menyadari betapa berartinya kehadiran seorang Ibu. Rumah menjadi sepi tanpa kehadirannya dan saya merasa sangat kehilangan Ibu. Disaat itu saya menyadari betapa berartinya Ibu, dan secara pribadi saya menyesal kenapa dulu tidak merawat dan berusaha untuk menyenangkannya. Penyesalan memenuhi hati dan pikiran saya, tetapi semua sudah terlambat.

Bagi Anda yang masih memiliki Ibu, Ayah, Kakak, Adik dan orang-orang yang Anda kasihi, hargailah mereka, taruhlah rasa sayang dan hormat kepada mereka. Rawatlah mereka selagi masih diberi waktu dan kesempatan untuk merawat mereka. Bersyukurlah karena Anda masih memiliki Ibu, Ayah, Kakak, Adik atau mereka yang Anda kasihi, yang selalu menolong, menyediakan segala kebutuhan dan mendidik Anda sampai berhasil. Kehadiran mereka tidak bisa digantikan oleh siapapun atau dengan apapun juga.
Read More »»»
27 October 2010

Jangan Pernah Abaikan

Konon dulu di Jepang ada tradisi anak akan membuang orang tua mereka yang sudah uzur ke hutan. Alkisah, suatu hari seorang pria berjalan tertatih-tatih karena membopong seorang wanita tua ke hutan untuk dibuang. Wanita tua itu adalah ibu kandungnya sendiri. Ketika pria itu menggendong ibunya ke tengah hutan, disepanjang perjalanan sang ibu mematahkan ranting-ranting kecil yang bisa digapainya. Setelah sampai ditengah hutan, pria itu menurunkan ibunya sembari berkata: “Bu, kita sudah sampai.”

Sebenarnya pria itu bergumul dengan perasaan sedih dihatinya, tetapi entah kenapa dia tega melakukannya. “Nak, Ibu sangat mengasihimu. Sejak kau kecil, ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang ibu miliki dengan tulus, bahkan sampai detik ini. Ibu tidak ingin engkau tersesat saat pulang nanti, karena itu tadi ibu mematahkan ranting-ranting kecil disepanjang jalan. Ikutilah patahan ranting itu maka engkau akan sampai di rumah dengan selamat.” Demikian pesan si Ibu sambil memberikan pelukan untuk yang terakhir kalinya.

Mendengar itu, hati si anak menjadi hancur, ia tak bisa lagi membendung air matanya. Sambil menangis ia memeluk ibunya sangat erat. Kemudian digendongnya wanita tua itu untuk dibawa pulang. Konon pria itu merawat ibunya dengan penuh kasih sampai ajal memanggil ibunda tercinta.

Ketulusan kasih seorang ibu tidak berubah! Kisah ini menjadi peneguh bagi kita bahwa kasih sayang seorang ibu tidak pernah berubah, meskipun seorang anak tega berbuat jahat kepada wanita yang sudah mengandung, melahirkan, merawat dan membesarkannya. Di zaman ini, tidak sedikit kita menjumpai kejadian yang demikian. Memang sudah tidak ada lagi anak yang membuang orang tuanya ke tengah hutan, tetapi ada banyak anak yang sibuk mengurus bisnis atau kehidupannya sendiri dan membiarkan orang tuanya menjalani hari tuanya dalam kesepian yang tidak bertepi. Ada pula anak yang karena tidak mau susah malah memasukkan orang tuanya ke panti jompo, dan jarang sekali pergi membesuknya. Dulu waktu kita kecil, orang tua kita juga sibuk mencari nafkah yang akan digunakan membeli susu, pakaian dan biaya sekolah kita, tetapi mereka tetap merawat kita. Tentu akan lebih mudah dan tidak merepotkan jika mereka menitipkan kita untuk diasuh serta dibesarkan dipanti asuhan atau dirumah singgah, tetapi mereka tidak melakukannya karena mereka mengasihi kita dengan tulus. Mengapa kita tidak memberikan cinta yang sama besarnya dengan cinta yang sudah kita terima dari mereka selama puluhan tahun? Seharusnya kasih itu menular, lalu mengapa kasih orang tua itu tidak menular kepada kita? Mungkin karena kita terlalu egois dan tidak mau direpotkan. Mulai hari ini baiklah kita belajar untuk menghormati ibu, bapak atau mertua kita sepenuh hati. Lakukanlah, karena ada berkat khusus bagi orang yang menghormati orang tuanya! Anak yang berbudi pekerti menghormati dan mengasihi bapak-ibunya dalam segala keadaan.

Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.” (Ulangan 5:16)

Read More »»»
04 September 2008

Love Your Mom

Mumpung mama kamu masih ada, coba dech saat beliau tidur... saat matanya terpejam... kamu tatap wajahnya 5 menit saja... cuma 5 menit aja koq... ga usah lama-lama... coba rasakan deh kalo wajah beliau udah ga ada lagi disitu... rasakan lewat hatimu yg paling dalam.
 
Lakukan apapun yang bisa kamu lakukan untuknya... "SEKARANG"!! bukan 1 jam lagi... bukan 1 hari lagi... bukan 1 bulan lagi... tapi "SEKARANG". Jangan tunggu kalo Beliau udah mau ninggalin kehidupan kita... penyesalan ga datang duluan sahabat-sahabatku...

Ada sebuah cerita tentang "BETAPA BESAR KASIH MAMA BUAT KITA" Seorang anak mencari Ibunya dan mendapatkan ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur...
Kemudian dia mengulurkan tangannya dan memberikan sehelai kertas yang sudah ia siapkan sehari sebelumnya. Sang Ibu segera membersihkan tangan lalu menerima kertas yang diulurkan oleh anaknya dan membacanya...

OngKos bantuin MAMA:
1) Bantu pergi ke warung : Rp 20.000,00
2) Jagain ade : Rp 20.000,00
3) Buang sampah : Rp 5.000,00
4) Beresin tempat tidur : Rp 10.000,00
5) Nyiram bunga : Rp 15.000,00
6) Nyapu halaman : Rp 15.000,00
TotaL : Rp 85.000,00

Selesai membaca kertas tersebut... Sang Ibu hanya tersenyum memandang anaknya... Si Anak pun tersenyum penuh kemenangan... Lalu Sang Ibu mengambil pena dan menulis sesuatu dibelakang kertas yang sama...

1) OngKos mengandungmu selama 9 bulan-GRATIS
2) OngKos menyusuimu anakku-GRATIS
3) OngKos berjaga malam karena menjagamu-GRATIS
4) OngKos air mata yang menetes karenamu-GRATIS
5) OngKos khawatir krn memikirkan keadaanmu-GRATIS
6) OngKos menyediakan makan, minum, pakaian dan keperluanmu- GRATIS
Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku-GRATIS

Air mata Si Anak berlinang setelah membaca...  dengan erat dan berbisik sambil terisak di dekat telinga Ibunya,

"AKU SAYANG SAMA MAMA...UDAH G ADA LAGI YANG PERLU DIBAYAR OLEH MAMA...UDAH LUNAS SEMUANYA...BUKAN MAMA YANG HUTANG SAMA AKU, TAPI
AKU YANG UTANG SAMA MAMA..."

dedicate for my beloved mom
i love you


Read More »»»
09 July 2008

Parents Love


Saat kau berumur 1 tahun,
> dia menyuapi dan memandikanmu
> Sebagai balasannya,kau menangis sepanjang malam

Saat kau berumur 2 tahun,
> dia mengajarimu bagaimana cara berjalan
> Sebagai balasannya, kau kabur saat dia memanggilmu

Saat kau berumur 3 tahun,
> dia memasak semua makananmu dengan kasih sayang
> Sebagai balasannya, kau buang piring berisi makanan ke lantai

Saat kau berumur 4 tahun,
> dia memberimu pensil berwarna
> Sebagai balasannya, kau coret-coret dinding rumah dan meja makan

Saat kau berumur 5 tahun,
> dia membelikanmu pakaian-pakaian yang mahal dan indah
> Sebagai balasannya, kau memakainya untuk bermain di kubangan lumpur dekat rumah

Saat kau berumur 6 tahun,
> dia mengantarmu pergi ke sekolah
> Sebagai balasannya, kau berteriak : "NGGAK MAU!"

Saat kau berumur 7 tahun,
> dia membelikanmu bola
> Sebagai balasannya, kau lemparkan bola ke jendela tetangga

Saat kau berumur 8 tahun,
> dia memberimu es krim
> Sebagai balasannya, kau tumpahkan hingga mengotori seluruh bajumu

Saat kau berumur 9 tahun,
> dia membayar mahal untuk kursus pianomu
> Sebagai balasannya, kau sering bolos dan sama sekali tidak pernah berlatih

Saat kau berumur 10 tahun,
> dia mengantarmu kemana saja, dari kolam renang hingga pesta ulang tahun
> Sebagai balasannya, kau melompat keluar mobil tanpa memberi salam

Saat kau berumur 11 tahun,
> dia mengantar kau dan teman-temanmu ke bioskop
> Sebagai balasannya, kau minta dia duduk dibaris lain

Saat kau berumur 12 tahun,
> dia melarangmu untuk melihat acara TV khusus orang dewasa
> Sebagai balasannya, kau tunggu dia sampai dia keluar rumah

Saat kau berumur 13 tahun,
> ia menyarankanmu untuk memotong rambut karena sudah waktunya
> Sebagai balasannya, kau katakan dia tidak tahu mode

Saat kau berumur 14 tahun,
> dia membayar biaya untuk kemahmu selama libur sebulan
> Sebagai balasannya, kau tak pernah meneleponnya

Saat kau berumur 15 tahun,
> pulang kerja dia ingin memelukmu
> Sebagai balasannya, kau kunci pintu kamarmu

Saat kau berumur 16 tahun,
> dia mengajari kamu untuk mengemudi mobilnya
> Sebagai balasannya, kau pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa peduli akan kepentingannya

Saat kau berumur 17 tahun,
> dia sedang menunggu telepon yang penting
> Sebagai balasannya, kau pakai telepon nonstop semalaman

Saat kau berumur 18 tahun,
> dia menangis terharu ketika kau lulus SMA
> Sebagai balasannya, kau berpesta dengan temanmu sampai pagi

Saat kau berumur 19 tahun,
> dia membayar biaya kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertama
> Sebagai balasannya, kau minta diturunkan jauh dari pintu gerbang agar tidak malu di depan teman-temanmu

Saat kau berumur 20 tahun,
> dia bertanya : " Darimana saja seharian ini?"
> Sebagai balasannya, kau jawab : "Ah, cerewet amat sih, ingin tahu urusan orang saja..!!!"

Saat kau berumur 21 tahun,
> dia menyarankan satu pekerjaan yang bagus untuk kariermu di masa depan
> Sebagai balasannya, kau katakan : "Aku tidak mau seperti kamu."

Saat kau berumur 22 tahun,
> dia memelukmu dan haru saat kau lulus perguruan tinggi
> Sebagai balasannya, kau tanya dia kapan kau bisa main ke luar negeri

Saat kau berumur 23 tahun,
> dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu
> sebagai balasannya, kau ceriterakan pada temanmu betapa jeleknya furniture itu

Saat kau berumur 24 tahun,
> dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencananya di masa depan
> Sebagai balasannya, kau mengeluh :"Aduuhhh, bagaimana sih kok bertanya seperti itu?"

Saat kau berumur 25 tahun,
> dia membantumu membiayai pernikahanmu
> Sebagai balasannya, kau pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km

Saat kau berumur 30 tahun,
> dia memberikan nasehat bagaimana merawat bayimu
> Sebagai balasannya, kau katakan : "Sekarang jamannya sudah berbeda!"

Saat kau berumur 40 tahun,
> dia meneleponmu untuk memberitahu pesta salah seorang saudara dekatmu
> Sebagai balasannya, kau jawab : "Aku sibuk sekali, nggak ada waktu!"

Saat kau berumur 50 tahun,
> dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu
> Sebagai balasannya, kau baca tentang pengaruh negatif orang tua yang numpang tinggal di rumah anaknya

Dan hingga SUATU HARI ,
> dia meninggal dengan tenang.....
> Dan tiba-tiba kau teringat semua yang belum pernah kau lakukan,
> dan itu menghantam HATIMU bagaikan pukulan godam

MAKA.......
> Jika orang tuamu masih ada, jangan lupa berikanlah kasih sayang dan perhatianmu lebih dari yang pernah kau berikan selama ini, jika orang tuamu sudah tiada, ingatlah akan kasih sayang dan cintanya yang telah diberikannya dengan tulus tanpa syarat kepadamu.......




Read More »»»