25 January 2011

Domba Atau Kambing ?

"Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikuti Aku" 
Yohanes 10:27

Pada akhir zaman Tuhan Yesus akan memisahkan domba dengan kambing. Kambing adalah gambaran orang-orang fasik yang tidak mendapat bagian dalam kerajaan Allah, sedangkan domba adalah gambaran orang-orang benar (Mat. 25:31-46). Lalu bagaimana kita dapat mengetahui bahwa kita adalah domba dan bukannya kambing? 

Mari kita lihat ciri-ciri domba:

1. Domba mendengar suara Gembala.

Banyak buku ditulis dengan judul: Bagaimana mendengarkan suara Tuhan? Rupanya banyak orang kristen yang sulit mendengarkan suara Tuhan. Mungkin Anda juga mengalami hal yang sama. Benarkah bahwa Tuhan itu sungguh-sungguh berbicara kepada kita? Ya, Tuhan berbicara kepada kita setiap hari. Yang menjadi masalah adalah telinga kita yang tuli! Allah adalah Roh. Jadi untuk mendengar suara Tuhan kita harus mempertajam telinga rohani kita. Salah satu cara Alkitabiah untuk peka terhadap suara-Nya adalah dengn "Beribadah dengan Tuhan dan berpuasa" (kis. 13:2). Sebab setelah mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, Roh kudus berkata-kata kepada mereka. Jadi dengan beribadah -termasuk memuji Tuhan, menyembah Tuhan, dan merenungkan firman Tuhan- dan berpuasa Anda akan mendengar suara Tuhan.

2. Yesus mengenal domba-domba-Nya.

Tidak dapat disangkal bahwa hanya domba yang taat dan melakukan firman Tuhan akan dikenal Tuhan. Mereka adalah para pelaku firman. Mereka adalah orang-orang yang takut kepada Tuhan dan melakukan kehendak Bapa (Mat. 7:21-23)

3. Domba mengikuti sang Gembala.

Mengikuti kristus bukan sekedar pergi ke gereja saja, tetapi menjadi sama seperti Kristus. Dunia dapat saja menjadi pengikut salah satu artis atau penyanyi dunia. mereka begitu fanatik sampai-sampai semua aksesoris yang dikenakan si artis diikutinya pula. Lebih parah lagi, dandanan rambutnya, model baju, sampai gaya bicara dicontoh pula. Sebenarmnya ini pula yang Tuhan kehendaki bagi gereja-Nya. Apa yang Yesus lakukan kita juga harus mencontohnya. Belas kasihan-Nya kepada orang-orang tertindas, semangat-Nya memberitakan Injil, kemurahannya kepada orang-orang lemah, penghiburan-Nya kepada orang-orang sengsara, dan kerinduannya melihat semua orang diselamatkan, itulah yang wajib kita teladani.
Read More »»»
24 January 2011

Kunci Pintu Berkat

“Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” Lukas 6:38
 
Dengan semakin naiknya harga kebutuhan pokok di pasaran, maka manusia semakin mengatur keuangan dengan sebaik mungkin. Pengeluaran-pengeluaran yang dirasa tidak terlalu penting, dipangkas. Sebisa mungkin mereka tidak melakukan pemborosan dengan hal-hal yang tidak penting. Prinsip memberi menjadi suatu hal yang dilupakan bagi banyak orang. Mereka berpikir bahwa untuk kebutuhan sendiri saja sudah pas-pasan, bagaimana jika mereka harus membantu orang lain juga.

Sebagai umat Tuhan kita harus mengerti prinsip yang Tuhan ajarkan kepada kita. Jalannya Tuhan tidak bisa dibatasi dengan akal dan logika kita. Logika mengatakan bahwa dua tambah dua sama dengan empat, tetapi Tuhan justru mengadakan mujizat dengan memberi makan 5000 orang hanya dengan 5 buah roti dan 2 ekor ikan. Bahkan masih ada sisa sebanyak 12 bakul (Mrk 6:34-44).

Mari kita melihat bagaimana caranya agar mujizat dapat terjadi dalam kehidupan kita :

1. Mengucap syukur dengan apa yang kita miliki

“Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat” Mrk 6:41

Tuhan sendiri mengucap syukur atas apa yang ada pada saat itu. Dia tidak melihat keterbatasan yang mereka miliki saat itu. Mereka membutuhkan jauh lebih banyak dibanding hanya 5 roti dan 2 ikan. Tetapi Dia Allah yang Maha Kuasa. Dia sanggup mengadakan yang tidak ada menjadi ada.

Apapun yang kita miliki saat ini, biarlah kita mengucap syukur di dalamnya. Mungkin penghasilan kita tidak seberapa. Mungkin harta kekayaan yang kita miliki tidak ada artinya dibanding dengan orang lain. Atau bahkan kita dalam keadaan yang selalu berkekurangan. Marilah kita belajar mengucap syukur dalam segala keadaan kita. Mengucap syukur merupakan kunci menuju pintu berkat kelimpahan.

2. Belajar memberi

“Berilah maka kamu akan diberi….” Luk 6:38

Prinsip memberi harus kita terapkan dalam kehidupan kita. Jika kita rindu diberkati oleh Tuhan, kita harus belajar untuk memberi. Firman Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa ketika kita belajar untuk memberi, maka di saat itulah kita akan menerima berkat dari Tuhan. 

Belajar menyisihkan sedikit dari apa yang kita miliki. Walaupun keuangan kita mungkin sudah tidak mungkin lagi untuk memberi, kita tetap harus belajar untuk memberi. Belajar mengembalikan perpuluhan dari penghasilan kita, belajar memberi bagi mereka yang membutuhkan, kita akan melihat pintu-pintu berkat akan dibukakan bagi kita. Bahkan Tuhan mengatakan, “Ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan” Mal 3:10

Tuhan tidak akan berhutang kepada umatNya. Dia akan semakin memberkati kehidupan kita, ketika kita belajar untuk memberi.

3. Beri dengan apa yang ada pada kita

“Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!” Sesudah memeriksanya mereka berkata: “Lima roti dan dua ikan.” Mrk 6: 38

Tuhan Yesus dan murid-muridnya memberi makan 5000 orang hanya dengan apa yang ada pada mereka dan mujizatpun terjadi. Berkat berkelimpahan dialami oleh 5000 orang tersebut, mereka makan sampai kenyang.

Kunci berkat yang ketiga adalah memberi dengan apa yang kita miliki, bukan dengan apa yang tidak kita miliki. Seringkali kita ingin membantu orang lain, padahal kita sendiri belum bisa membantu mereka. Sehingga pada akhirnya kita membantu mereka dengan sedikit dipaksakan, yaitu dengan berhutang kepada pihak lain atau bahkan menjual harta yang ada untuk dapat membantu orang tersebut. 

Memberi bukanlah dari sesuatu yang tidak kita miliki, tetapi dari apa yang kita miliki. Tetapi bukan berarti ini menjadi alasan bagi kita untuk tidak belajar memberi. Minta hikmat kepada Tuhan, kapan saatnya untuk memberi. Tuhan akan menuntun kehidupan kita, sehingga kita akan tetap dapat memberi dengan apa yang ada pada kita.

Mari kita syukuri dengan apa yang ada pada kita saat ini. Ada kuasa yang luar biasa dari sebuah pengucapan syukur, mujizat bisa terjadi lewat ucapan syukur. Belajar memberi dari segala kekurangan kita. Dan beri dengan apa yang memang kita miliki. Kita akan melihat kuasa Tuhan bekerja dalam kehidupan kita. Pekerjaan dan usaha kita akan semakin diberkati. Bahkan pintu-pintu berkat yang baru Tuhan bukakan bagi kita.
Read More »»»
24 November 2010

Cerita dari Afrika

Cerita dari Afrika. Suatu malam Saya bekerja keras untuk menolong seorang ibu di sebuah bangsal rumah sakit, tapi apapun yang kami lakukan, dia meninggal dan meninggalkan bayi prematur yang sangat mungil serta seorang anak perempuan usia 2 tahun yang menangis.

Kami mengalami kesulitan untuk menjaga agar si bayi tetap hidup, Karena kami tidak punya incubator (kami tidak punya listrik untuk Menyalakan inkubator). Kami juga tidak punya makanan khusus bayi. Meskipun kami tinggal di daerah khatulistiwa, di malam hari seringkali udara sangat dingin dan anginya kencang. Salah seorang muridku menaruh bayi itu dalam box dan membungkus bayi dengan kain wol. 

Yang lain menyalakan api dan mengisi botol air panas. Kemudian muridku yang mengisi botol air panas segera kembali dengan kebingungan sambil bercerita bahwa saat mengisi botol itu dan ternyata meledak (Karet mudah rusak dalam kondisi cuaca tropis) "Dan ini adalah botol air panas terakhir kita," dia berseru. "Oke," kataku, "taruh bayi itu didekat api dalam jarak yang cukup aman, dan tidurlah diantara bayi itu dan pintu untuk menjaga nya dari angin. 

Tugasmu adalah menjaga bayi tetap hangat." Siang hari berikutnya, seperti hari sebelumnya, Aku pergi berdoa dengan beberapa anak yatim piatu yang berkumpul denganku. Aku berikan mereka bermacam-macam saran untuk mendoakan dan bercerita pada mereka tentang bayi mungil itu. Aku menceritakan masalah kami soal menjaga bayi supaya cukup hangat, menyebutkan tentang botol air panas, dan bagaimana bayi itu bisa dengan mudah meninggal bila kedinginan. Saya juga bercerita pada mereka tentang saudara perempuannya yang berumur 2 tahun, yang menangis karena ibunya meninggal. 

Selama berdoa, seorang gadis usia 10 tahun, Ruth, berdoa dengan doa singkat seperti anak Afrika kami. "Tolong, Tuhan" dia berdoa, "kirim kan botol air. Tidak baik besok,Tuhan, karena bayinya bisa mati, jadi tolong kirim sore ini."  

Saat aku menarik napas dalam hati karena keberaniannya dalam berdoa, dia menambahkan, "Dan saat Engkau mengirimkan botol air itu, maukah Engkau mengirimkan juga boneka untuk gadis kecil itu, supaya dia tahu bhw Engkau sungguh mengasihinya?" Seringkali dalam doa anak-anak, aku merasa ditempatkan pada pusatnya. 

Dengan sungguh-sungguh kukatakan, "Amin". Oya aku tahu bahwa Tuhan dapat melakukan segalanya, Alkitab mengatakan demikian. Tapi pasti ada batasnya, kan? (pikiran manusia selalu ingin membatasi kuasa Tuhan) Dan menurutku satu-satunya jalan Tuhan dapat menjawab doa-doa kami yaitu jika keluargaku di Amerika mengirimi bingkisan. 

Namun aku sudah tinggal selama hampir 4 tahun, dan tidak pernah, sama sekali menerima bingkisan dari rumah. Tapi, bila sesorang mengirimiku bingkisan, siapa yang akan memberi botol air panas. Sebab aku tinggal di daerah Tropis! Menjelang sore, ketika aku sedang mengajar di sekolah pelatihan perawat, sebuah parcel dikirimkan dengan mobil didepan pintu rumahku. Saat aku sampai di rumah, mobilnya sudah pergi, tapi disana, di beranda, ada dua puluh dua pon parcel yang sangat besar. Aku merasa pedih dimataku.  

Aku tidak dapat membuka parsel itu sendirian, jadi aku meminta ke anak-anak yatim piatu untuk membantuku. Bersama-sama kami menarik talinya, dengan hati-hati membuka simpulnya. Kami melipat kertasnya, supaya tidak menyobeknya. Kegembiraan meningkat. Sebanyak 30 atau 40 pasang mata melihat ke dalam kardus tersebut. 

Dari atas, kami aku mengeluarkan baju rajutan berwarna cerah. Mata kami langsung silau melihatnya. Ada perban rajutan untuk pasien kusta, dan anak-anak mulai terlihat sedikit bosan. Lalu ada sekotak kismis, ini bisa dipakai untuk membuat setumpuk kue kismis di akhir pekan. 

Lalu, aku memasukkan tanganku lagi, aku merasa .... benarkah ini?? Aku menariknya keluar .... yaa .... ini baru, botol air panas karet. Aku menangis terharu. Aku tidak meminta Tuhan untuk mengirimkannya. Aku tidak percaya bahwa Dia benar-benar melakukannya. Ruth ada di barisan depan dari anak2. Ia cepat2 maju, sambil menangis, " Jika Tuhan mengirimkan botolnya, Dia harus mengirim bonekanya juga!" Sambil mengobrak-abrik bagian bawah kotak, dia menarik sesuatu yang mungil, boneka bergaun indah.  

Matanya berkilau ! Dia tidak pernah sangsi! Sambil melihatku, dia berkata : " Dapatkah aku pergi bersamamu & memberikan boneka ini kepada gadis kecil itu, supaya dia tahu, Yesus sangat mencintainya? ? Ternyata parcel ini telah dipersiapkan dan dikirim 5 bulan lalu. Di bungkus oleh Siswa Kelas Hari Mingguku, yang mana saat mempersiapkan parcel itu, Tuhan telah memerintahkannya juga untuk mengirimi botol air panas walaupun di daerah Tropis. 

Lalu salah satu dari siswaku juga telah memberikan boneka untuk dikirimkan ke anak Afrika - Dan itu semua terjadi 5 bulan sebelumnya, sebagai jawaban dari doa seorang anak gadis 10 tahun untuk membawanya "sore itu"
 
(Yesaya 65:24)
"Maka sebelum mereka memanggil, Aku sudah menjawabnya; ketika mereka sedang
berbicara, Aku sudah mendengarkannya."
Read More »»»